Dalam kehidupan modern saat ini, komunikasi digital telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas manusia. Komunikasi digital adalah proses pertukaran informasi menggunakan media berbasis teknologi seperti internet, media sosial, email, dan aplikasi pesan instan. Melalui media digital, manusia dapat berinteraksi tanpa batas ruang dan waktu, menjadikan dunia terasa lebih kecil dan terhubung. Namun, kemudahan ini juga membawa tantangan baru dalam hal etika, tanggung jawab, dan cara berkomunikasi yang bijak.

Sebelum era digital, komunikasi berlangsung secara langsung atau melalui media konvensional seperti surat, telepon rumah, dan pertemuan tatap muka. Prosesnya lebih lambat namun memiliki nilai emosional yang tinggi. Seseorang menunggu balasan surat berminggu-minggu, atau berbicara dengan penuh kesopanan ketika bertemu langsung. Ada rasa sabar, perhatian, dan penghargaan dalam setiap percakapan. Namun kini, setelah hadirnya teknologi digital, pola komunikasi berubah drastis. Segalanya menjadi serba cepat, instan, dan praktis. Melalui WhatsApp, Instagram, atau video call, seseorang bisa berkomunikasi dalam hitungan detik meski terpisah jarak ribuan kilometer.

Namun perubahan ini tidak hanya membawa manfaat, tetapi juga tantangan sosial dan moral. Dalam komunikasi digital, sering kali orang lupa menjaga etika dan sopan santun. Anonimitas dan kebebasan berekspresi di dunia maya kerap disalahgunakan untuk menyebar hoaks, ujaran kebencian, atau perilaku tidak etis lainnya. Oleh karena itu, etika digital menjadi hal yang sangat penting. Menghormati privasi orang lain, menggunakan bahasa yang santun, serta berpikir kritis sebelum membagikan informasi adalah bentuk tanggung jawab moral setiap pengguna media digital.
Sebagai generasi yang hidup di era digital, kita perlu memiliki literasi digital yang kuat agar mampu menggunakan teknologi secara bijak. Media digital seharusnya menjadi sarana untuk membangun koneksi positif, berbagi ilmu, serta memperluas wawasan, bukan tempat untuk menebar kebencian atau kesalahpahaman. Dengan demikian, komunikasi digital dapat benar-benar menjadi alat kemajuan peradaban manusia, bukan sumber masalah sosial baru.
Sebagai refleksi pribadi, saya menyadari bahwa komunikasi digital bukan sekadar soal kecepatan dalam menyampaikan pesan, tetapi tentang bagaimana kita menjaga makna, empati, dan tanggung jawab dalam setiap interaksi. Dunia digital adalah cerminan dunia nyata—bagaimana kita bersikap di dalamnya menentukan kualitas hubungan sosial dan moral di masa depan.
Hastag :
#KomunikasiDigital #DigitechUniversity #RefleksiMahasiswa #DhafaNazulaPermadi